Watublapi: Tempat Tenun Ikat Sikka Lahir dari Pewarna Alam dan Tangan Penenun
Di Watublapi, perbukit selatan Sikka, penenun mengolah kapas dan pewarna alam jadi kain ikat yang ditenun tangan turun-temurun.
Inti Sari
- Watublapi berada di Kecamatan Bola, wilayah perbukitan selatan Kabupaten Sikka, sekitar satu jam berkendara dari Maumere.
- Kain ikat ditenun dengan alat tenun bukan mesin (gedogan), dikerjakan sambil duduk di lantai.
- Pewarna diambil dari bahan alam seperti tarum (indigo) untuk biru dan akar mengkudu untuk merah.
- Motif diikat pada benang lungsin sebelum dicelup, teknik yang membuat corak muncul saat kain ditenun.
- Kelompok penenun perempuan setempat menerima kunjungan tamu untuk melihat proses dari pemintalan hingga penenunan.
Jalan Menanjak ke Kampung Penenun
Aspal menyempit begitu mobil meninggalkan jalur pantai utara Maumere dan mulai memanjat ke selatan. Watublapi duduk di punggung bukit Kecamatan Bola, cukup tinggi hingga udara terasa lebih sejuk dan laut selatan tampak samar di kejauhan. Perjalanan dari pusat kota memakan waktu sekitar satu jam, melewati kebun, rumah papan, dan gereja kecil yang jadi penanda kampung. Di halaman rumah, ibu-ibu duduk bersila di depan alat tenun kayu yang diikat ke pinggang. Suara bilah kayu yang merapatkan benang terdengar teratur, ditingkahi obrolan dalam bahasa Sikka. Bagi banyak keluarga di sini, menenun bukan pekerjaan sampingan, melainkan keterampilan yang diwariskan dari nenek ke cucu perempuan. Kain yang mereka hasilkan dikenal luas sebagai salah satu ikat khas Sikka, dan Watublapi jadi salah satu titik di mana proses lengkapnya masih bisa disaksikan langsung.
Dari Kapas dan Daun Menjadi Warna
Yang membuat kain Watublapi bernilai adalah kesabaran di balik warnanya. Benang berasal dari kapas yang dipintal dengan tangan menggunakan alat pemintal sederhana. Setelah menjadi benang, sebagian diikat rapat mengikuti pola tertentu memakai tali, bagian yang diikat inilah yang nanti tak tembus warna sehingga membentuk motif. Pewarnaan mengandalkan bahan yang tumbuh di sekitar kampung. Daun tarum diolah menjadi larutan indigo untuk menghasilkan biru tua kehitaman, sementara akar dan kulit mengkudu dipakai untuk nada merah bata. Proses celup diulang berkali-kali dalam hitungan hari, kadang minggu, agar warna meresap dan tahan lama. Penenun sering menjelaskan pada tamu bahwa warna dari bahan alam tidak pernah persis sama antarhelai, dan justru itu tandanya kain dibuat tanpa pewarna pabrik. Setelah benang kering, barulah proses menenun dimulai, tahap paling lama yang bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk satu lembar sarung.
Menenun sebagai Penopang Ekonomi Keluarga
Kain ikat di Watublapi bukan sekadar warisan budaya, tapi juga sumber penghasilan. Sebagian penenun tergabung dalam kelompok yang menjual hasil karya langsung ke pengunjung maupun ke pasar dan toko suvenir di Maumere. Harga satu lembar kain bervariasi tergantung ukuran, kerumitan motif, dan apakah seluruh prosesnya memakai pewarna alam, yang biasanya lebih mahal karena lebih lama dikerjakan. Kain buatan tangan dengan pewarna alam relatif lebih mahal dibanding kain pasar biasa, dan pembeli yang datang langsung ke kampung umumnya paham alasannya setelah melihat sendiri prosesnya. Kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, memberi tambahan pemasukan lewat peragaan menenun dan sambutan adat. Bagi perempuan penenun, penghasilan dari kain membantu biaya sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Tantangannya tetap ada: bahan pewarna alam makin sulit dicari, sebagian anak muda memilih merantau, dan regenerasi penenun jadi pekerjaan rumah yang terus dibicarakan warga. Meski begitu, tradisi menenun di kampung ini masih hidup, dijaga oleh tangan-tangan yang belajar sejak kecil di depan alat tenun keluarga.
Orang Juga Bertanya
Di mana lokasi Watublapi?
Watublapi berada di Kecamatan Bola, wilayah perbukitan selatan Kabupaten Sikka, sekitar satu jam berkendara dari Maumere.
Apa yang bisa dilihat wisatawan di Watublapi?
Proses tenun ikat lengkap: pemintalan kapas, pengikatan motif, pencelupan dengan pewarna alam, dan penenunan dengan alat tenun tangan.
Kenapa kain ikat Watublapi lebih mahal?
Kain dibuat sepenuhnya dengan tangan dan pewarna alam, prosesnya bisa memakan waktu berminggu-minggu per lembar.
Warna alam apa yang dipakai penenun Watublapi?
Umumnya biru dari tarum (indigo) dan merah dari akar serta kulit mengkudu, bahan yang tumbuh di sekitar kampung.